Fungsi dan pesona perahu-perahu sederhana itu belum hilang, walau di tepian lain bersandar kapal yang lebih kokoh, besar, dan pastinya sanggup menampung lebih banyak pfenumpang. Awak perahu tidak diam menunggu rezeki. Setiap orang yang melintas di hadapannya ditawari untuk berperahu mengarungi Musi dengan destinasi utama Pulau Kemaro.
Pulau Kemaro ada di bagian tlga per empat bantaran Musi. Kemaro sendiri berarti keramat. Dikatakan keramat karena pulau ini tak pernah tenggelam ketika pasang tiba. Dari- seorang kawan wartawan di Palembang, saya mendapat informasi, Pulau Kemaro lebih dikeramatkan oleh warga Tionghba beragarna Budha.
Pada hari tertentu, khususnya Imlek dan Cap Go Men, angka kunjungan ke Pulau Ke-maro meningkat. Tidak hanya dari lokal Sumatera Selatan dan Indonesia, pengunjung dari daratan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga kerap mendatangi pulau ini.
NAIK PERAHU
Matahari belum tepat di atas kepala. Pada pukul 10.30 itu, panas kota Palembang sudah terasa mencucuk pori-pori kulit ini. Tidak ada kucuran keringat. Bulirnya telah lenyap dimakan terik matahari. Inilah suhu di Palem¬bang yang menjelajah di atas angka 30 derajat Celcius, Didin (42), seorang awak perahu menghampiri saya. “Naik perahu, Pak? Ke Pulau Kemaro, ayuk kalau mau.”
Atas dasar penasaran, yang sudah melilit pikiran sejak tiga hari sebelumnya, saya pun mendekati sang awak perahu untuk melakukan penawaran harga agar bisa segera menjelajah pulau Kemaro. Angka Rp 300 ribu disodorkan pada kami untuk perjalanan pulang pergi melintasi Musi ke pulau Kemaro.
Harga itu terhitung mahal; karena menurut seorang juru parkir yang saya temui mengatakan bahwa tiket ke pulau Kemaro dengan speecf boat hanya berkisar di tarif Rp 30 ribu-Rp 70 ribu per orang. Namun itu berlaku untuk tiket speecf boat besar yang ditumpangi beramai-ramai. Sedangkan sewa perahu kecil yang lebih privasi, harganya tibak menentu. Dan disepakati saya berangkat dengan membayar Rp 100 ribu.
Didin menarik perahunya mendekati dermaga, langkah saya yang disesaki teka-teki pun segera bergerak ke atas perahu. Tanpa pelampungdan hanya bermodal kepercayaan pada awak perahu, saya melaju dengan cukup cepat ke Pulau Kemaro. Dalam sungai ini berapa? tanya saya. “Kurang lebih 12 hingga 15 meter, Mas,” jawabnya datar. Cukup menguji nyali, tanpa ada alat keselamatan, saya dipaksa percaya pada ketahanan perahu kecil yang berlari cukup kencang itu.
Sekitar 10 menit berlalu, pada jarak sekitar 100 meter, Pulau Kemaro menampakkan bibir dermaganya. Tidak seperti perkiraan sebe¬lumnya kalau pulau ini akan terlihat ramai oleh perahu-perahu pengunjung, ternyata yang terlihat hanya daratan bisu.
“Silahkan naik dan berjalan-jalan, saya tunggu di sini,” ujar Didin. Saya pun melangkah. Bergerak sekitar 10 meter, suasana khas Tionghoa telah terlihat. Sebuah gapura berukiran dua naga bertuliskan 1982 tertampang kaku di hadapan saya. Barangkali mak-sud dari tulisan tersebut adalah tanggal pembuatan gapura atau sebuah tahun sakral.
KURANG TERAWAT
Saya memasuki gerbang dari bagian kiri pulau. Tampak adukan semen dan beberapa pekerja bangunan sedang alot menyelesaikan sebuah bangunan. Rencananya akan dibangun pos baru untuk kebutuhan gerbang wisata. Suasana lebih sejuk ada tengah pulau, karena payung-payung alami berupa pohon rindang berjejar rapi menciptakan kesejukan. Sayang, rindangnya pepohonan itu tak diimbangi perawatan terpadu dari dinas terkait. Wajar saja jika pulau ini kurang diminati sebagai obyek wisata.
Dua orang lelaki yang temyata keturunan juru kunci Pulau Kemaro mengajak saya melihat kelenteng atau vihara yang di pinggirnya terdapat batu buatan yang menceritakan tentang legenda Pulau Kemaro.
Syahdan, seorang putri raja bernama Siti Fatimah dipersunting oleh saudagar Tionghoa bernama Tan Bun An pada zaman kerajaan Palembang. Siti Fatimah diajak ke daratan China untuk menjenguk orangtua Tan Bun An.
Kembali ke Palembang, mereka dihadiahi tujuh buah guci yang dikatakan berisi kepingan emas. Untuk menghlidari pembajakan selama perjalanan, hadiah tersebut ditutupi dengan sawi-sawi asin. Melihat sawi-sawi tersebut ketika Tan Bun An membukanya, dirinya amat kecewa dan mengempaskan guci-guci tersebut ke Musi. Tapi pada guci terakhir, lemparan itu membentur ke bagian kapal sehingga guci tersebut pecah dan mengeluarkan kepingan-kepingan emas. Tan Bun An melompat ke Musi untuk mengambil hadiah tersebut ditemani seorang pengaawal untuk
membantu.
Sebelum terjun, Tah Bun An berkata, ”Jika ada daratan muncul di Musi ini berarti itu adalah kuburanku;” Ditunggu lama, Tan Bun An tak kunjung muncul, Siti Fatimah pun ikut terjun ke Musi. Mereka bertiga tak pernah muncul kembali. Legenda mengatakan, ada . tiga gunduk daratan yang menyerupai pusaka muncul ke permukaan dan disebut-sebut sebagai kuburan mereka bertiga.
Linda (46), juga keturunan juru kunci, mengatakan, tiga gundukan itulah awal sejarah Pulau Kemaro. Makin dikeramatkan ketika daratan ini tidak pernah tenggelarn walau terjadi pasang di Musi. Dari legenda ini muncul mitos saat, menjelang Impek dan Cap Go Meh, barang siapa yang dengan niat tutus ingin berkunjung ke Pulau Kemaro untuk merayakan hari besar tersebut, di sana akan terkabulkan semua keinginannya. Inilah yang membuat banyak warga Tionghoa menyempatkan diri ke Pulau Kemaro.
Dari sisi ketenteng setelah puas mengamati kisah legenda, langkah saya lanjutkan menuju sebuah pagoda yang kokok di ujung pulau. Pagoda tersebut ditutup pada hari biasa, dan saya pun hanya bisa menyaksikan dari luarnya saja. Beberapa penghias seperti patung dan ukiran tampak di bagian pagoda ter¬sebut yang sedikit mengambarkan sepercik sisi religius dari agama Budha.
Pagoda ini indah dan layak untuk dikunjungi, tidak hanya untuk peribadatan semata. Akan tetapi, lagi-lagi kebersihan yang tidak terjaga membuat pengunjung merasa kurang nyaman. Bau seperti amoniak jelas terasa kental. Ini mungkin hasil dari limbah pembuangan industri dan rumah tangga di sekitar Musi yang terbawa hingga Pulau Kemaro.
LEBIH BANYAK MITOS
Saya membawa cerita ini pada seorang kawan wartawan yang pernah meliput Pulau Kemaro. Katanya, pulau itu adalah pulau de¬ngan seribu legenda dan mitos yang amat khas. Diceritakan juga olehnya, para arkeolog kurang meminati pulau ini karena sulit mencari pembuktiannya. Beberapa soal hanya dijawab dengan legenda dan cerita rakyat bia¬sa.
Namun di balik itu semua, PuIau Kemaro tetap merupakan bagian unik dari obyek wisata di Palembang. Terbukti dengan angka kunjungan yang melimpah pada hari-hari tertentu. Dan perlu diingat lagi, Pulau Kemaro sudah terkenal di luar negeri. Sepatutnya Paliembang lebih peduli pada keberadaan pulau ini karena memiliki potensi yang besar.
Didin mengungkapkan, saat ini ia dan teman-teman sesama awak perahu amat sulit mendapat rezeki dari kunjungan orang ke Pulau Kemaro, Dulu Musi dan Kemaro amat diminati, namun belakangan ini entah karena kondisi atau kurang promosi, obyek wisata potensial ini seakan mati.
Sekarang Didin menganggap rezekinya datang dari keberuntungan membawa orang menikmati Musi dan Kemaro. Di akhir pekan pun kunjungan dan pengguna jasa Didin teramat sepi. Perlu perhatian lebih dan konsentrasi untuk membangkitkan potensi cagar budaya yang jarang ditemui ini.
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments