Tepat di jalan Gagak Lumayung, Kecamatan Garut Kota, Kelurahan Kota Wetan, Sentra Penyamakan Kulit Sukaregang berdiri, Tidak sulit menemukan lokasi ini, karena di mulut jalan sudah terpampang dengan apik sebuah gapura yang menginfo-masikan keberadaan sentra penyamakan kulit ini.
Sore itu, Minggu (25/10), sekitar pukul 15.00, wilayah Sukaregang masih dipadati aktivitas kendaraan yang membawa hasil penyamakan kulit. Kegiatan tampak semrawut de¬ngan lebar jalan yang terbilang sempit dan ramai oleh kenda¬raan yang parkir. Di mulutjalan terdapat berbagai toko yang menawarkan hasil kerajinan kulit, di antaranya dompet, tas, sepatu, sendal, jaket, dan sebagainya.
Di salah satu lokasi penya¬makan yang bernama Rens, Widodo (40) masih bergulat dengan kulit yang sudah melewati tahap pembiruan. Dengan sebuah mesin, Widodo meme-gang dua sisi sebuah lembaran kulit untuk dihaluskan. Widodo adalah satu dari banyak pekerja yang mengantungkan hidupnya dari iridustri penyamakan kulit.
Sudah 10 tahun ia bekerja, baik di hari kerja maupun libur, untuk memproduksi lembar demi lembar kulit sapi dan dom¬ba untuk. kemudian diproses menjadi kerajinan kulit.
“Penghasilan saya sebulan sekitar 1,5 juta rupiah. Saya sudah 10 tahun hidup dari sini. Dengan uang sebesar itu saya masih cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ucapnya sambil terus bekerja.
ALAMI KESULITAN
Industri penyamakan kulit di Sukaregang sudah terkenal sejak dulu. Dalam fakta sejarah, kehidupan industri ini dimulai dari 7 orang pelopor yang mencoba mengubah sebuah kulit sapi atau domba untuk dijadikan bahan baku kerajinan.
Saat ini, di wilayah Sukare¬gang sudah ada sekitar 332 orang pengusaha yang rata-rata memiliki 5 orang pekerja. Namun beberapa pengusaha yang besar mampu menyerap tenaga kerja 20 hingga 30 orang.
Kulit sapi dan domba mereka dapatkan dari berbagai wilayah selain Garut. Sumatera, Sulawe¬si, dan Jawa Timur menjadi pemasok utama. Dan jika sedang sulit, mereka biasanya impor dari beberapa negara, yang terbanyak adalah Malaysia.
Industri penyamakan kulit ter-masuk dalam bagian usaha menengah keci| dan mikro (UMKM). Banyak yang mengatakan usaha ini adalah satu solusi-ekonomi yang termasuk anti terhadap fluktuasi permasalahan moneter, terutama krisis.
Namun, sekitar awal tahun 2009, saat krisis ekonomi menerpa pasar kulit di Garut, harga produksi melonjak drastis dari ku¬lit mentah hingga obat-obatan ki¬rn ia untuk memroses penyamakan. Tapi kenyataannya, harga kulit tidak bisa menanjak mengikuti modal yang sudah dikeluarkan.
Alhasil banyak pengusaha merugi dan gulung tikar. Tak hanya itu, penyebab lainnya ditengarai karena banyaknya perajin tas, sepatu, sendal, dompet, dan sebagainya yang biasanya memakai kulit sebagai bahan baku beralih ke bahan sintetis atau ku¬lit imitasi karena lebih murah.
“Kenyataan ini pahit. Bahan mentah menanjak harganya. Walau saat ini sedang murah, tapi bahan kimia dan formula untuk produksi mahal. Ini membuat sebagian pengusaha gulung tikar. Kalau pun tidak, mereka amat kesulitan,” kata Rusmana, salah sa¬tu pengusaha penyamakan kulit.
BUTUH DUKUNGAN TOTAL
Hingga kini, menurut data yang disebutkan Gandi Suagandi, Ketua Koperasi Industri Kulit Garut, saat ini ada sekitar 332 pengusaha yang masih bertahan. Rada kondisi ini, bila dirata-rata, hasil produk¬si penyamakan bisa mencapai to¬tal 442 ton per bulan di wilayah Sukaregang.
“Ada 332 pengusaha dan bila dirata-rata mungkin satu pengusa¬ha kecil dapat menghasilkan 1 ton kulit jadi. Sedangkan pengusaha besar bisa sampai 20 ton, dan ka-lau dirata-rata per bulannya sekter 442 ton kulit jadi dihasilkan dari Sentra Penyamakan Kulit Sukaregang, urainya.
Prestasi yang telah ditelurl para pengusaha penyamakan terhitung besar. Dalam lingkup demografi yang berada di kota pendukung, para pengusaha ini adalah bagian penentu dari tiap industri kerajinan yang memakai kulit.
Untuk kebutuhan regional tentu saja telah terealisasi. Tidak hanya sampai di pasar lokal, kelas nasional hingga internasional perlahan telah dirambah oleh para pengusaha Sukaregang. Kondisi yang dinamis ini ternyata secara koordinasi masih terlihat statis. Jika ada yang berhasil mengekspor komoditi kulitnya, itu adalah tindakan sendiri tanpa adanya bantuan dari instansi terkait atau pemenntah yang seharusnya berada pada posisi regulator.
“Sudah lama industri ini ada, dan sayangnya kita masih bertindak sendiri-sendiri. Beberapa kali memang ada pemberitaan yang menyebutkan, pengusaha penya¬makan dan perajin kulit di Suka¬regang akan dapat bantuan serta binaan dari pemerintah. Saat ini yang sedang tren adalah UMKM, dan dinas terkait telah berbicara pada perluasan sektor ini. Tentu ini, semua berkaitan dengan penyamakan dan kerajinan kulit Sukaregang. Koordinasi masih sebatas hembusan dan realisasinya belum siginifikan, jelas Gandi.
Kendala utama pengusaha kecil adalah permodalan. “Saat ini para pengusaha ma¬sih bermain dengan iming-iming pinjaman. Kalau pun ada, yang mendapat pinjaman prosesnya per individu. Kami harapkan adalah perhatiarr lebih dart pemerintah sehingga pinjamarr da-pat berjalan dan merate ke se-mua pengusahaf” Janjuf Gandi.
Selain itu, pembinaan amat diperlukan. Pemasran juga masih bertindak dalam usaha masing-masing. Artinya kolaborasi pasar masih dipetakan secara terbatas. Disebutkan dalam aspirasi pengusaha yang diwakili Gandi, mereka menginginkan pembinaan berupa pelatihan usaha, desain pola, solusi for¬mula teknls pada proses produksi, dan sebagainya. Semuanya tentu harus ada hubungan sinergi dari berbagai pihak, baik subjek, objek, dan regulator.
SUMPEK DAN KUMUH
Kawasan Sukaregang bisa dikatakan masih jauh dari imbuhan sentra. Ketika menjadi sebuah pusat, seharusnya infrastuktur sudah memadati kawasan ini. “Jalan di sini kecil, lantas terlihat sumpek dan kumuh. Ini harus ada perhatian dari pemerintah dan juga untuk para pengusaha, mereka bisa berpikir keras dalam memajukan kawasannya,” kata ‘Gandi.
Melihat kondisi jalan di Sukaregang, sepertinya belum akan memacu tingkat kunjungan ke kawasan ini. Pada perluasan industri, bisa saja kawasan ini dibentuk menjadi lokasi wisata yang akhirnya membawa banyak pengunjung dan meningkatkan tingkat penjualan.
Yang perlu dilakukan pertama kali adalah perluasan jalan, lalu tempat parkir serta penata-an lebih lanjut sehingga kawas¬an ini terlihat apik. “Ketika ada rencana perluasan jalan, peng¬usaha dan pemilik lahan industri juga harus membantu prog¬ram pemerintah dengan merelakan sebagian lahannya untuk dijadikan jalan. Toh ini semua untuk kemajuan industri dan daerah Sukaregang secara bersama,” katanya.
Industri ini adalah warisan yang menjadi kebanggaan. Jika maju, tidak hanya orang yang terlibat langsung di dalamnya yang akan mereguk untung. Sentral UMKM adalah solusi bersama mengentaskan angka prasejahtera, asalkan dibimbing dengan benar.
Jika kantor Anda membutuhkan seragam batik yang keren, silakan datang ke www.pasarbatik.com
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments