Telinga berdengung, pilek, dan sakit tengorokan, jamak dialami hampir setiap orang. Sayangnya, banyak yang menganggap keluhan ini termasuk gejala penyakit self-limiting disease atau sembuh tanpa diaobati. Hati-hati, anggapan itu bisa salah kaprah. Boleh jadi keluhan di atas adalah awal gangguan penyakit yang berkaitan dengan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) yang perlu mendapat penanganan tepat. Bila terlambat, bisa ingakibatkan komplikasi bahkan menjadi problem.
Pasalnya, bila satu bagian dari organ tersebut terganggu, maka kedua organ lainnya akan terimbas. Oleh karena itu, para ahli medis menyatakan pemeriksaan THT harus menjadi satu kesatuan, karena saluran ketiganya sating berhubungan.
Ketiga organ THT memang memiliki fungsi masing-masing yang amat berguna. Telinga menjadi organ utama pendengaran. Sedangkan hidung selain berperan penting pada pernapasan, ia dapat menyaring kotoran dari udara yang masuk melalui selaput lendirnya.
Lain lagi dengan tenggorokan. Organ ini merupakan saluran berotot tempat berjalannya makanan ke kerongkongan dan saluran udara ke paru-paru. Di dalam saluran, ada amandel atati tonsil yang melekat pada dinding kanan dan kiri dari tenggorokan berfungsi sebagai pertahanan tubuh.
Penyakit berkaitan THT
Mengingat pentingnya fungsi THT, tidak dimungkiri ketiga organ itu bisa rentan terhadap bahaya virus dan kuman penyakit, polusi, serta radiasi. Bahaya mudah menyerang, apalagi saat daya tahan tubuh melemah. Sebut saja berbagai penyakit seperti influenza, iritasi, infeksi saluran pernapasan, alergi, radang, hingga kanker nasofaring erat kaitannya dengan THT.
Mengutip berita harian ini pada 11 Maret 2009, kanker nasofaring di Indonesia menempati peringkat pertama keganasan untuk THT, serta urutan keempat terbanyak di antara semua jenis kanker. Angka kejadian diperkirakan 4,7 kasus per 100.000 penduduk.
Penyebab utamanya berupa infeksi virus Epstein Ban. Namun, ada beberapa faktor lain yang memicu terjadinya penyakit itu, yaitu faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, kebiasaan memasak dengan asap, dan sering mengonsumsi ikan asin yang diawetkan dengan nitrosamine dalam jangka panjang. Bahkan, orang yang sering terpapar gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, dan serbuk kayu di area kerjanya berisiko terserang penyakit ganas ini.
Influenza
Kita juga tidak bisa mengabaikan penyakit yang satu ini. Influenza banyak dipicu terpaan polusi, perubahan cuaca yang ekstrim, dan lingkungan kotor yang bisa mengurangi daya tahan tubuh. Kondisi tidak bersahabat itu memudahkan virus influenza berkembang dan cepat menyerang tubuh kita.
Seperti dikemukakan Dr. Michael Reo, Medical Manager PT Darya-Varia Laboratoria, influenza bila gejala influenza yang umum terjadi berupa bersin-bersin, hidung meler dan tersumbat, sakit kepala disertai demam, nyeri otot dan sendi, serta badan melemah.
Kemudian, penyakit ini bisa dikatakan parah atau berat apabila timbul gejala-gejala infeksi sekunder. Gejalanya seperti demam tinggi (di atas 38 Celsius), nyeri otot dan sendi yang makin hebat, sesak napas, perubahan warna pada lendir hidung menjadi hijau kebiruan atau kuning kehijauan, nyeri menelan serta suara serak bahkan bahkan hilang. Atau meskipun gejala-gejala flu ringan, tapi setelah dua minggu tetap tidak kunjung membaik. Kalau sudah begini, kita perlu langkah preventif dan kuratif yang tepat.
Penanganan tepat
Kembali pada pola hidup sehat, itu kunci jawabannya. Pola hidup yang sederhana, mudah dilakukan, dan sarat manfaat. Tidak sekadar memerhatikan pola makan bergizi, tapi juga perlu memilikt waktu cukup untuk beristirahat. Para pakar kesehatan pun menganjurkan untuk rutin olahraga agar menunjang kondisi tubuh yang prima.
Hidup sehat juga tidak lepas dari kebersihan diri dan lingkungan. Sayangnya, sampai sekarang, faktor itu belum menjadi kesadaran penuh dan kebiasaan setiap orang. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Departemen Kesehatan .2007, sebanyak 22 provinsi memiliki angka prevalensi yang lebih rendah dari rata-rata nasional dalam hal perilaku hidup bersih dan sehat pada lingkup rumah tangga.
Namun, tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin dilakukan, bila ada niat dan upaya positif. Butuh waktu dan dukungan bersama semua elemen -masyarakat untuk menggaungkan pola hidup sehat dan bersih, agar menjadi kesadaran setiap orang.
Obat efektif
Sebagai langkah kuratif, memilih obat yang tepat menjadi pilihan bijak. Seperti saat memilih obat influenza, salah satunya yaitu Neozep Forte yang nadir di Indonesia sejak lebih dari 30 tahun.
Neozep Forte efektif dan cepat membantu meredakan gejala-gejala flu karena sinergi manfaat kandungannya. Sebut saja seperti kandungan analgesik atau antipiretik meredakan gejala sakit kepala, demam, dan nyeri otot serta sendi. Dekongestan efektif meringankan hidung tersumbat, dan antihistamin yang membantu meredakan bersin-bersin dan hidung meler. Dengan keunggulan ombinasi parasetamol 250 mg dan salisilamid 150 mg, Neozep Forte mampu membantu meredakan gejala flu apabila dimfnum sesuai dosis dan aturan pakai, serta memerhatikan kontra indikasinya yang tertera pada kemasan.
Di samping minum Neozep Forte, sebagai langkah penanganan flu yang tepat, Michael mengingatkan untuk selalu makan makanan bergizi (empat sehat lima sempurna terutama vitamin dan mineral), minum air putih minimal dua liter per hari, dan cukup beristirahat. Dengan langkah prevei kuratif yang tepat, kesehatan THT terjaga.
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments