Saat UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia tak berbenda In¬donesia, para penjual batik juga ketiban berkahnya. Altha Febela Priyatmono, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, mengaku, pemesanan batik di Laweyan mengalami peningkatan, terutama dari kantor, seko-lah, dan komunitas.
Hingar bingar produksi batik diharap-lak dipandang dari sisi ekonomi semata, tetapi juga budaya. “Industri batik akan surut jika memandang batik sebagai produk ekonomi semata,” ujar Altha.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Masyarakat diharap lebih mengenal batik sebagai proses produksi batik yang rumit dan memakan waktu lama, dari desain, melukis di kain, pewamaan, hingga proses finishing, bukan sesuatu yang instan. “Yang disebut batik apabila memiliki bahan baku, teknik, dan mo¬tif tertentu batik, sedangkan selain itu disebut kain bermotif batik,” tegas Altha.
Jika dilihat dari sisi lama pengerjaan, batik tulis membutuhkan waktu yang paling lama. “Satu batik tulis membutuhkan waktu lebih da¬ri sebulan, sedangkan batik cap bisa puluhan dalam seminggu,” terang Marheno, instruktur batik di Bubakan, Semarang.
Harga batik tulis juga paling tinggi dibanding jenis batik cap atau cetak. “Harga pakaian batik tulis antara 75 ribu hingga puluhan juta rupiah,” katanya. Harga tersebut tergantung motif, pembuatan, bahan, serta nilai historis batik tersebut.
Kesadaran masyarakat terhadap batik tulis membuat batik tulis tidak tenggelam. Ketiga jenis batik tersebut memiliki pasamya masing-masing.
Konsumen harus dapat membedakan antara batik tulis, cap, atau batik cetak. Di lain pihak, penjual juga harus jujur saat menjual ba¬tik tulis, cetak, atau cap sehingga pembeli tidak akan tertipu. “Akurasi batik printing tinggi, pewarnaan terbatas, dan detailnya sama,” urai Altha menjelaskan perbedaan antara batik tulis dengan batik cetak.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Tren positif
Jika tidak dijaga, tren ini tidak akan bertahan lama seperti masa-masa kejayaan Laweyan. Saat itu mereka hanya menjual batik se¬bagai barang dagangan, bukan sebagai bentuk budaya. Alhasil, ketika batik cetak masuk, batik tulis banyak yang berguguran.
Tahun 1911-1970, batik di Laweyan pernah mengalami masa kejayaan dengan ratusan jumlah perusahaan pemroduksi batik,” lanjut Altha. Namun, seiring munculnya batik cetak, sekttar tahun 1970, usaha batik tulis dan cap mengalami penurunan hingga 70 persen dari total populasi penduduk Laweyan pada tahun 2004. Dulu adaratusan tempat produk¬si, sekarang tinggal belasan saja.
Altha menegaskan, penurunan itu disebabkan oleh buruknya manajemen pada saat itu dan masuknya batik cetak sehingga usaha batik tulis yang pada saat itu banyak di Laweyan harus gulung tikar.
Seiring membaiknya kesadaran masyarakat terhadap produk batik, batik tulis perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Sekarang ada sekitar 60 tempat produksi batik di Laweyan.
Agar tidak terpuruk lagi, lahirlah Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan yang berdiri sejak 25 September 2004. Fo¬rum ini berttijuan membangun serta mengoptimalkan seluruh pote.nsi Kampoeng La¬weyan untuk bangkit kembali dan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Motif khas
Dari Semarang, membaiknya kesadaran masyarakat terhadap batik kemudian ditangkap Pemerintah Kota Semarang dengan cara menetapkan Bubakan sebagai kampung ba¬tik pada tahun 2005. Bubakan dijadikan sebagai pusat showroom batik dari berbagai tem¬pat di Semarang, pelatihan, dan seminar pembuatan batik, serta kegiatan-kegiatan di Semarang.
Awalnya, Marheno masih bingung menjelaskan tentang motif batik Semarang. Namun, seiring berjalannya waktu, ia bersama teman-teman penggerak batik di Semarang mulai menemukan motif khas batik Semarang dengan mengambil yang khas bangunan-bangunan di Semarang, misalnya Tugu Muda, dan flora fauna yang ada.
Usahanya ternyata berbuah manis de¬ngan diajukannya 30 motif batik Semarangan untuk dipatenkan. Di pasaran, batik Sema¬rangan juga semakin terkenal dan banyak dicari. Bahkan Marheno mengaku hasil produk¬si batik tulis dan cetaknya saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar.
Keinginannya mengembangkan batik timbul setelah melihat banyaknya orang asing .tertarik terhadap batik dan belajar membuatnya. Sementara, di sisi lain, antusiasme masyarakat kita terhadap batik mulai menurun.
la pun merasa tertarik belajar membatik ke beberapa tempat. Namun di luar dugaan, berbagai kesulitan ditemui ketika ingin bela¬jar membatik karena perusahaan-perusaha-an yang sudah mapan enggan membagi seluruh pengetahuan mereka tentang batik.
Keinginan tersebut ternyata dapat terealisasi dengan dijadikannya Bubakan sebagai kampung batik di Semarang, Awalnya pela¬tihan hanya dilakukan kepada ibu-ibu di sekitar Bubakan. Kini, orang-orang dari luar Kota Semarang, juga tertarik mengikuti pelatihan yang diadakan.
Melestarikan batik tidak hanya dilakukan dengan menjual batik sebanyak mungkin tetapi juga dengan cara memperkenalkan cara pembuatan batik kepada masyarakat. Bahkan, Marheno sudah tidak tahu lagi jumlah sekolah yang telah memanggilnya dan te¬man-teman untuk mengadakan pelatihan membatik.
Paling tidak ada tiga hal yang dilakukan, yaitu melalui edukasi, konservasi, serta mendirikan kawasan pusat pengembangan batik terpadu.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Mengembangkan batik
Pangsa pasar batik di dalam negeri ma¬sih amat besar apalagi setelah disahkan se¬bagai warisan budaya dunia. Untuk itu, perlu niat serius dari berbagai pihak untuk mengembangkannya. Pendirian sentra batik juga tidak hanya sebagai pusat penjualan dan pelatihan semata, tetapi sekaligus sebagai tempat produksi. Di Semarang misalnya, Bubakan sebagai sentra batik tidak tampak layaknya sentra ba¬tik. Di sana hanya terdapat sebuah tempat produksi dan sebuah showroom kecil.
“Kalau kita berbicara produksi memang sudah tidak layak lingkungannya,” terang Marheno. Untuk produksi, paling tidak harus tersedia tempat yang luas, tidak seperti di Bubakan di mana sekitarnya merupakan rumah-rumah penduduk sehingga ruang gerak terasa terbatas.
Baik batik tulis, cap, dan cetak semuanya memiliki sisi positif. Batik cetak dan cap paling tidak turut andil dalam melestarikan motif batik sehingga tidak periu mematikan satu dari ketiga produk batik yang ada.
Jika kantor Anda membutuhkan seragam batik yang keren, silakan datang ke www.pasarbatik.com
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments