Di suatu siang, Aep tengah asyik di pinggir kolam kecilnya, menunggu siapa saja yang ingin membeli ikannya. Jaring-jaring yang diikat pada sisi-sisi bambu terlihat kuat menahan gerakan ikan nilem yang ia pelihara.
“Kalau musim hujan rata-rata kami memilih budidaya ikan dengan ukuran kecil, karena lebih laku di pasaran. Maka dari itu, saat ini nilem yang saya pilih untuk dibudidayakan di awal musim penghujan sekarang,” ujar petani ikan dari Desa Ranca-paku, Kecamatan Padekembang, Kabupateh Tasikmalaya tersebut.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Mengunjungi Desa Rancapaku yang terletak di kaki Gunung Galunggung seakan memasuki wilayah bahari di atas daratan. Deretan rumah dengan eksterior sedemana selalu dihiasi dengan kolam-kolam berukuran variatif.
Sejak dulu dengan memanfaatkan sumber mata air dari Gunung Galunggung, masyarakat desa ini telah menggantungkan hidup dari budidaya ikan air tawar, selain bercocok tanam padi. Hingga pada masanya, Kabupaten Tasikmalaya pernah meraih predikat sebagai salah satu pemasok ikan air tawar terbesar se-lndonesia.
Namun kenyataan itu kini mulai berbalik. Jangankan untuk kebutuhan nasional saat ini pasokan ikan air tawar dari Kabupaten Tasikmalaya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan tokal dan regional.
Maman Suhilman Dali (55) Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasik¬malaya, mengatakan, saat ini budidaya ikan di sekitar Gunung Galunggung banyak menghadapi kendala. “Kalau dulu kita amat bangga terhadap kuantitas produksi ikan yang mampu berbicara pada lingkup nasional. Saat ini kendala banyak menghinggapi usaha para petani ikan di sekitar Galunggung. Yang pasti adalah pembenihan yang dirasa kurang,” ujarnya, Senin (26/10).
Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) di Ran¬capaku diakui Dali belum dapat maksimal dafam menyediakan permintaan beriih. Terhitung hingga kini, banyak petani ikan yang mendapat benih ikan justru dari petani ikan lain yang mengembangkan bibit tersebut.
PENCEMARAN DAN PENYAKIT
Hampir semua ikan air tawar ada di wilayah ka¬ki Gunung Galunggung. Seperti ikan mas, tawes, nilem, gurame, nila, mujair, lele, sepat, dan sebagainya. Menurut data dari Dinas Petemakan, Per¬ikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya, angka produksi pada 2008 selalu memenuhi tar¬get pengembangan.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Di berbagai kecamatan, seperti Padakembang, Leuwisari, Cisayong, Sukaresik, Singapama, dan Sukaratu, para petani ikan masih mengontrasepsikan sentra utama mata pencahariannya ini. Pada akhir 2008, target perikanan dari budidaya kolam yang berada pada angka 8 ton berhasil dilampaui dengan pemenuhan produksi sebesar 13,05 ton. Guna meningkatkan angka produksi, selain terkendala benih yang belum mampu dipasok de¬ngan sempurna deh BPBI, ada juga masalah intervensi pertambangan pasir di Gunung Galunggung.
“Petani ikan di sekitar Galunggung itu memanfaatkan air dari aliran gunung. Saat ini kendala mulai terasa dengan adanya aktifitas pertambangan pasir di gunung tersebut Pasir yang sudah ditambang harus dicuci dan itu air tercemar. Kami dari dinas sudah menyampaikan ini semua ke Kantor Lingkungan Hidup dan Dinas Pertambangan, dan ini semua masih dalam proses,” tutur Dali.
Tak hanya itu, Aep mengaku akhir-akhir ini kegiatan pengembangan ikan nilemnya terganggu serangan penyakit. “Saya gak tahu persis ini penyakit apa. Yang pasti di banyak tubuh ikan nilem timbul bintik-bintik merah, khususnya di bagian perut dan sekitar bawah kepala. Ini amat mengganggu, nilem saya banyak yang mati dan hasilnya saya rugi karena banyak ikan gagal panen,” keluhnya.
Untuk masalah terakhir tadi, Dali mengaku be¬lum mendapat laporan dari petani-petani ikan tentang gangguan penyakit tersebut “Saya be¬lum mengetahui hal tersebut dan ini adalah informasi yang baik. Untuk itu semua, sore ini saya akan mengirim tim untuk langsung bergerak ke kawasan Rancapaku untuk menelaah lebih jauh terhadap penyakit tersebut” ujarnya.
PERBAIKAN IRIGASI DAN KOLAM
Ke depannya, Dali mengaku memiliki misi un¬tuk mengembaiikan kejayaan Kabupatan Tasikmalaya dalam budidaya ikan air tawar. Dan untuk semua itu, dalam tiga tahun terakhir Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya berkonsentrasi untuk memperbaiki irigasi air, perluasan berbagai kolam, dan tentunya memperbanyak kuantitas benih.
“Untuk benih, kami mencoba bekerja sama de¬ngan para petani ikan untuk membudidayakannya karena masalah yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu BPBI belum mampu menyuplai seluruh kebutuhan benih petani ikan di sini. Hingga kini kami koordinasi dengan berbagai lapisan peta¬ni ikan untuk bersama-sama memperbaiki kualitas benih. Kami juga mejakukan perbaikan saluran irigasi sehingga kebutuhan air dapat tersalurkan pada tiap-tiap petani ikan,” jelasnya.
Untuk masalah pembenihan, Aep juga mengaku menemui persoalan, meski lokasi kolamnya berjarak kurang lebih 500 meter dari BPBI Rancapaku. “Rata-rata benih saya dapatkan dari petani lainnya saja. Kalau dari BPBI gak, hanya beberapa benih saja dan musiman,” ucapnya.
Untuk lingkup kecil, beberapa petani ikan tidak merasakan dampak yang signifikan atas kurang maksimalnya pasokan benih dari BPBI. Namun sebenarnya, BPBI tidak hanya menyediakan semata, tapi mengatur harga jual dari benih. Bisa dikatakan BPBI adalah lembaga yang diandalkan masyarakat untuk mendapat benih dengan harga terjangkau.
Jika kinerja tidak maksimal, hasilnya adalah fluktuasi harga benih yang dijual secara individu oleh petani yang dapat menyediakan benih seca¬ra mandiri. Produksi BPBI saat ini sebesar 600 juta benih ikan. Dari jumlah’itu baru mencukupi 40 persen kebutuhan benih di Tasikmalaya Masalah itu coba dituntaskan lewat kemitraan. BPPI dengan 62 unit pembenihan rakyat, dengan luas kolam 118 hektar di 23 kecamatan.
BUTUH PEMBINAAN
Jika melihat perilaku ekonomi petani ikan di Rancapaku, teriihat adanya kesenjangan produksi dan penghasilan. Hingga kini pengusaha besar dapat bergantung dari budidaya ikan. Rata-rata pemilik kotam besar meraup keurrtungan bersih Rp 2 juta. Mereka pun mampu mempekerjakan pegawai.
Sedangkan mereka yang mengantongi modal pas-pasan hanya bisa merasakan fluktuasi produksi yang kadang untung kadang rugi. Rata-rata petani ikan “kelas teri” tidak memiliki kolam dan hanya bisa menyewa. “Saya nyewa kolam di sirt sebesar limaratus ribu rupiah per tahun. TapI keuntungan budidaya masih naik turun. Kadang mah untung, kadang rugi, karena banyak yang mati,” ujar Aep.
Dengan kenyataan ini diharapkan dinas terkait dan kelompok koperasi yang menaungi mampu memberi bantuan, bukan sisi material semata, namun pembinaan terpadu agar seluruh masyarakat di kaki Gunung Galunggung dapat meningkatkan taraf hidupnya dari sektor andalan ini.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Silakan download file presentation slides tentang manajemen kinerja dan key performance indicators pada web www.manajemenkinerja.com
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments