AKTIVITAS yang dijalani Tersiana ini dilakoni pula oleh puluhan penenun yang bekerja di pusat produksi dan penjualan kain tenun tradisional yang paling dikenal di kota Kupang ini. Ketelitian dan kesabaran mereka saat menenun, telah memberi andil besar dalam menciptakan popularitas cendera mata khas NTT ini.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Di showroom, puluhan kain tenun dan baju dengan corak bias atau motif serta warna dasar yang beragam dipajang guna me-mikat pembeli. Lantas, kenapa motif kain tenun tradisional NTT begitu beragam? Seorang kawan yang bertugas sebagai pastor pembantu di Keuskupan Agung Kupang, memberi tahu, hampir semua suku yang ada di NTT punya bahasa, adat, dan kesenian masing-masing. Hal itu membawa pengaruh pada keragaman motif, seperti tanaman, binatang, dan lakon-lakon mitos.
Kata Yus Lussi, Konsultan Perencanaan Ina Ndao, antardesa, kecamatan, hingga kabupaten, memiliki motif dan warna dasar kain tenun yang berbeda. “Untuk warna dasar, misalnya, kain te¬nun dari Pulau Rote berwarna dasar hitam, Sumba berwarna da¬sar merah dan coklat, Sabu berwarna dasar hitam, dan Alor ber-”warna dasar oranye, merah dan coklat.”
Untuk motif, kain tenun dari Sumba Timur banyak menonjolkan binatang kuda, rusa, udang, dan naga. Sedangkan dari Timor Tengah Selatan dominan burung, cicak, dan buaya. Di lain tempat, ada penenun yang mengangkat motif tanaman atau bunga-bungaan.
Ina Ndao saat ini memayungi 780 kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri 2-10 orang penenun. “Sentra kain tenun ini berdiri pada tahun 1991, saat itu baru memiliki tiga orang anggota,” kata Yus Lussi.
TERGIUR JADI TKW
Dalam perbincangan itu, terungkap kekhawatiran Yus terhadap kelangsungan eksistensi kain tenun ini di masa depan. Pasalnya, banyak pemuda yang mulai enggan belajar menenun, sedangkan penenun yang ada saat fni, kelak mereka akan “pensiun”.
“Menenun masih dianggap pekerjaan orang desa sehingga membuat anak-anak muda tidak mau belajar menenun. Jadi kita alami kesulitan untuk merekrut tenaga penenun baru. Anak-anak muda juga menganggap menenun adalah pekerjaan yang butuh ketelitian dan kesabaran yang tinggi, sehingga mereka malas mencobanya,” ujarnya.
Pelatihan untuk menciptakan penenun-penenun muda sebe-narnya sudah dibuat, namun mereka acap kali tergiur iming-iming untuk menjadi TKW di luar negeri. “Banyak wanita muda yang sudah dilatih menenun selama 3 bulan akhirnya batal (rhen-jadi penenun),” aku Yus.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Dalam pelatihan itu, para calon penenun bukan hanya mendapat pelajaran tentang peralatan dan teknik menenun, melainkan juga diajari cara memilih bahan baku yang bagus, zat pewarna dan benang, hingga merekayasa desain agar makin cantik.
Yus menjelaskan, beberapa pihak sudah dilibatkan dalam kaderisasi penenun ini, seperti LSM dan beberapa kelompok gereja.
SERAGAM PNS
Secara umum kain tenun dari NTT dikenal mahal, terutama ka¬in tenun yang berasal dari Sumba. Meski sudah dikenal luas, sebagian besar masyarakat kita masih enggan membelinya. Kebanyakan hanya sebatas memuji keelokan rupanya saja.
Guna melebarkan sayap untuk “merangsek” pasar domestik, kata Yus, pemerintah pusat dan provinsi melalui Departemen Perindustrian, telah beberapa kali mengajak para penenun untuk berpameran ke luar pulau, bahkan hingga mancanegara. Tapi Yus menilai langkah itu justru kurang efektif.
Bagi Yus akan lebih baik bila karya para penenun ini dibeli sendiri oleh pemerintah daerah (pemda) dan dibagikan kepada pegawai pemda untuk seragam pada hari-hari tertentu. Dengan ca¬ra ini, penguasaan pasar lokal bisa lebih mendalam.
“Dulu, pada tahun 2003, hal itu pernah dilakukan tapi setelah itu berhenti. Kalau pegawai pemda disuruh membeli sendiri jelas banyak yang tidak mampu sebab kain ini masih dikerjakan secara tradisianal sehingga harganya relatif mahal. Tapi jika pemda yang membeli tentu bisa lebih ringan, setidak-tidaknya pemda bisa memesan kain tenunnya saja untuk bahan pakaian seragam, dan ongkos menjahitnya baru ditanggung pegawai,” jelasnya.
Yus mengaku, harga kain tenun yang bisa dipakai untuk seragam PNS masih dapat ditekan agar lebih murah. Bila saja ada ke-bijakan seperti itu, pasar lokal bisa dirambah sepenuhnya. “Kita tak perlu kirim orang pameran keluar yang notabene butuh ong¬kos lebih mahal,” ucapnya.
Di samping itu, kegiatan pameran keluar pulau atau luar nege¬ri, justru membuat penenun yang ikut tidak bisa berproduksi. Katakanlah, jika dalam sehari seorang penenun mampu membuat selembar kain, kalau ia ikut pameran seminggu atau dua minggu saja, sama halnya ia rugi dalam jumlah itu.
“Apalagi peminat kain tenun paling banyak di pasar nasional hanya di Jakarta. Pameran di Surabaya dan Yogya kurang bagus konsumennya,” jelas Yus. Jadi, ia mengusulkan agar kain tenun ini bisa dipakai sendiri dulu.
TIGA CARA
Kain tenun, oleh sebagian masyarakat NTT dianggap sebagai harta keluarga yang bernilai tinggi. Selain proses membuatnya tak gampang, keterampilan menenun umumnya diwariskan secara turun-temurun.
Para penenun masa lalu sering mengungkapkan imajinasi lewat karyanya. Malahan mereka kerap menyelipkan simbol-simbol atau ajaran bijak dalam motif-motif yang dibuatnya. Sebab itulah motif-motif tertentu pada kain tenun NTT diyakini memiliki atmosfer mistik.
Ada tiga cara untuk mengerjakan selembar kain tenun. Cara pertama dengan mengikat helai demi helai benang warna putih untuk membentuk motif. Namun yang diikat adalah benang lungsinya. Sedang kain tenun di luar NTT umumnya mengikat benang pakannya. Kain yang dihasilkan dengan cara ini dikenal dengan tenun ikat.
Cara selanjutnya adalah menenun untuk membuat motif pada kain dengan benang yang sudah diwarnai. Cara kedua ini disebut dengan istilah lokal dari daerah Timor Tengah Utara, tenun buna. Dan cara ketiga, prosesnya mirip tenun buna. Kain yang dihasil¬kan disebut tenun sotis.
Para penenun sebagian besar membeli obat pewarna dan benang dari Pulau Jawa. “Zat pewarna dan benang dibeli di Surabaya. Tapi kalau zat pewarna alam bisa dibuat sendiri ha¬nya saja hal ini justru kurang ekonomis sebab sulit membuat¬nya,” terang Yus.
Di Ina Ndao, harga kain tenun yang paling murah sekitar Rp 200 ribu, dengan panjang 3 meter. Kain ini bahannya kain rayon di mana masyarakat setempat menyebutnya sutra, sebab lembutnya memang seperti sutra. Namun benang tenunnya merupakan benang lokal dengan motif sederhana.
Sementara, kain tenun paling mahal dibanderol Rp 3,5 juta. Ka¬in ini memakai pewarna alami dan menggunakan benang tenun dari luar negeri. Proses membuatnya cukup lama, sekitar 6 bulan.
“Bila menghendaki, pembeli bisa memesan kain yang panjangnya lebih dari tiga meter. Sesuai kebutuhannya saja,” pungkas Yus.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Firefox, Facebook, kaos motivasi dan kaos bola, silakan KLIK DISINI.
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments