Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Facebook, kaos bola dan kaos motivasi, silakan KLIK DISINI.
Bahwa susu bermanfaat, tampaknya tidak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, mendapatkan manfaat tersebut secara optimal adalah persoalan lain yang harus dipikirkan dengan baik.Terkait hal ini, salah satu persoalan yang mengemuka adalah masalah pengawetan dan pengemasan susu.
Susu merupakan bahan makanan ber-nilai gizi tinggi. Susu mengandung antara lain protein, lemak, vitamin, mineral, laktosa, serta enzim dan beberapa mikroba. Susu diperoleh dari hasil pemerahan hewan seperti sapi. Komposisi susu dapat beragam, tergantung antara lain pada bangsa sapi, tingkat laktasi, pakan, interval pemerahan, serta umur sapi. Susu murni memiliki warna normal putih kebiruan hingga kuning kecokelatan. Rasa manis susu berasal dari kandungan laktosa, sedangkan rasa asin berasal dari klorida.
Pada zaman dahulu, sebelum teknologi pengawetan susu ditemukan, orang biasanya mengonsumsi susu cair murni ha¬sil perahan. Mengingat susu merupakan salah satu media yang paling baik untuk pertumbuhan mikroba, kebersihannya harus dijaga. Susu mudah pecah dan rusak jika penanganannya kurang baik. Masa simpannya juga relatif singkat sehingga dibutuhkan pengawetan untuk memperpanjang masa simpan.
Kandungan zat gizi yang kaya pada susu ternyata tak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga diminati oleh mikro¬ba seperti bakteri dan jamur, yang membutuhkan bahan makanan tersebut untuk pertumbuhannya. Aktivitas mikroba pada susu ditandai oleh perubahan rasa, aroma, warna, sehingga penampilan susu secara keseluruhan menjadi rusak.
Susu yang rusak akibat aktivitas mikroorganisme dapat dikenali antara lain berupa penggumpaan dan pengasaman aki¬bat fermentasi laktosa menjadi asam laktat. Susu juga dapat berlendir karena terjadi pengen-talan akibat pengeluaran bahan seperti kapsul atau getah oleh beberapa jenis bakteri.
Teknologi pengawetan
Untuk menghindari kerusakan, susu perlu ditangani dengan baik dan cepat melalui sejumlah teknologi pengawetan. Untuk susu cair teknologi yang dikenal antara lain sterilisasi, pasteurisasi dan aseptik.
Susu steril diproses dengan autoclove pada suhu 121 derajat celcius selama 15-20 menit. Cara ini dapat membunuh semua bakteri sehingga susu mampu bertahan hingga sekitar satu tahun. Sementara itu, pasteurisasi adalah teknik pengawetan dengan pemanasan pada temperatur antara 72-75 derajat celcius selama 15-20 detik untuk membunuh bakteri patogen. Setelah diproses, agar bertahan susu harus disimpan pada suhu dingin, yaitu antara 5-7 derajat celcius. Dengan cara ini, susu dapat bertahan hingga lebih kurang dua minggu.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Facebook, kaos bola dan kaos motivasi, silakan KLIK DISINI.
Perkembangan berikutnya untuk pengawetan susu adalah menggunakan teknologi aseptik, yaitu proses pemanasan tinggi yang disebut ultra high temperature (UHT). Keunggulan teknologi ini membuat Institute of Food Technologist (IFT) menyebutnya sebagai “penemuan terpenting ilmu pangan dalam abad ke-20″.
Dalam teknologi pemrosesan dan pengemasan ase| produk pangan cair melewati proses pemanasan suhu tingi (140 dejarat celcius) dalam hitungan detik (proses UHT). Proses UHT ini menghilangkan seluruh bakteri berbahaya dan pada saat yang sama menjaga semua kandungan nutrisi yang ada termasuk juga warna aroma, dan rasanya. Paduar antara suhu dan waktu yang tepat ini yang menjadi inti teknologi UHT.
Kemasan
Selain proses aseptik dengan teknologi UHT, faktor kemasan memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga susu agar tetap awet dan tahan lama. Sistem pengemasan aseptik dirancang untuk mencegah mikroorganisme masuk ke dalam kemasan selama dan setelah proses pengemasan berlangsung. Penggunaan kemasan multilapis memberikan perlindungan terhadap cahaya, udara, dan mikroogranisme: berbahaya sehingga susu tidak berubah rasa, tekstur dan kandungan nutrisi tanpa perlu disimpan dalam lemari pendingin.
Jika konsumen melihat ke¬masan karton produk UHT, tampaknya saja tipis.
Padahal, kemasan tersebut terdiri dari enam lapisan, yaitu polietilen I (LDPE) yang melindungi dari kelembapan luar; karton atau kertas yang memberi stabilitas dan kekuatan; polietilen (LDPE) sebagai lapisan perekat; aluminium foil yang melindungi dari oksigen, rasa, aroma, dan cahaya; adhesive polymer sebagai lapisan perekat; serta m-polietilen sebagai sealing. Secara keseluruhan, yang dihasilkan; adalah kemasan produk yang kuat, ringan, dan aman.
Teknologi kemasan yang canggih ini menjamin kesegaran dan kualitas susu. Selain bebas bakteri, susu yang diproses dengan teknologi UHT dapat disimpan dalam jangka waktu lebih panjang ketimbang susu pasteurisasi yaitu hingga sekitar 10 bulan tanpa perlu menggunakan bahan pengawet. Bahkan juga tidak pelru disimpan dalam pada dingin.
Akan tetapi, apabila kema¬san telah dibuka, susu UHT harus disimpan dalam lemari pen¬dingin agar kualitasnya tetap terjaga. Dan, untuk mendapatkan kualitas terbaik dianjurkan untuk segera menghabiskan susu tidak lama setelah kemasan dibuka.
Menyimak proses pembuat-an dan keunggulan teknologinya, bolehlah kita mendambakan susu dengan kualitas terba¬ik yang diproses secara UHT.
Meski demikian, sebagai konsumen kita juga harus awas dan teliti karena susu UHT bisa menjadi rusak apabila terdapat kebocoran pada kemasan kar-tonnya. Kebocoran sebenarnya dapat dengan mudah dikenali yaitu apabila kemasan tampak menggembung. Hal ini diakibatkan susu terkontaminasi bakteri yang berhasil menerobos masuk dan kemudian menghasilkan CO2 yang membuat kemasan menggembung.
Jika Anda ingin mendapatkan kaos keren dengan desain Facebook, kaos bola dan kaos motivasi, silakan KLIK DISINI.
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments