Sudah menajdi pengetahuan umum jika seseorang yang menderita diabetes, memiliki kewajiban yang tidak boleh dihiraukan yaitu untuk mengendalikan kadar gula darah atau glukosa dalam darah. Sebab, penyakit diabetes bukanlah jenis penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol atau dikendalikan agar tidak menuju fase penyakit kronis.
Diabetes saat ini telah menjadi penyebab kematian utama di negara maju, dan telah menjadi epidemi di negara berkembang, tercatat 246 juta orang kini menderita diabe¬tes di seluruh dunia. Sedangkan menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2004, Indonesia menjadi negara keempat terbanyak untuk kategori jumlah penderita diabetes melitus, sebesar 8,4 juta jiwa. Diperkirakan, pada tahun 2030 akan meningkat menjadi 21,3 juta jiwa, yang dikutip dari buku “Mengenal Diabetes Melitus Seri 1″ keluaran PERSADIA.
Begitu banyaknya orang yang menderita diabetes atau akrab disebut diabetis, karena banyak faktor. Yang umum didapati karena mereka kurang ketat dalam mengendalikan gaya hidup sehat, seperti pengaturan pola makan yang bernutrisi dan rendah kolesterol, misalnya. Faktor obesitas, kuranganya aktivitas fisik, turut memicu sesorang untuk rentan terkena diabetes. Kesimpulan dari semuanya kembali pada tidak adanya pengendalian atau pengelolaan diabetes secara bijak dan bersifat kontinu.
Kenaikan gula darah sesudah makan
Menurut Hery Purwanto, Product Manager Accu-Chek, “Bagi kebanyakan penderita diabetes, meningkatnya gula darah sesudah makan telah dianggap suatu hal yang lumrah, walaupun angkanya menembus batas ideal yakni 140 mg/dL Karena memang sampai hari ini, fokus utama dari pengelolaan diabetes lebih diarahkan ke upaya mengendali¬kan gula darah sebelum makan dan gula darah puasa.” Hery menambahkan, Terdapat angka penelitian yang menunjukkan bahwa 84 persen penderita dia¬betes tipe dua mengalami kenaikan gula darah di atas normal setiap habis makan.”
Dalam perkembangannya, sejak dua tahun lalu, tepatnya 19 September 2009, di Belanda, International Diabetes Federation (IDF) telah merekomendasikan penatalaksanaan terbaru dalam pengelolaan diabetes. Rekomendasi IDF yang menekankan pentingnya memperhatikan kondisi gula darah pasien diabetes justru sesudah makan, karena pene¬litian menunjukkan adanya kaitan erat antara tingginya gula darah sesudah makan dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan pembuluh darah. Penyakit kardiovaskuler diketahui menjadi penyebab tingginya angka kematian akibat diabetes.
Panduan IDF yang terbaru mereko-mendasikan agar setiap pasien diabetes menjaga gula darah tidak lebih dari 140 mg/dL pada dua jam sesudah makan. Karena gula darah yang tinggi sesudah makan akan meningkatkan pembentukan oxidative stress, yaitu radikal bebas yang memicu terjadinya gangguan fungsi pembuluh darah, dan hal inilah yang merupakan tahap permulaan dari perjalanan penyakit jantung atau kardiovaskular.
Pada orang sehat, kondisi gula da¬rah telah diatur sedemikian rupa oleh tubuh, sehingga jika kadar gula darah me¬ningkat sesudah makan, akan dilepas hormon insulin untuk menurunkannya. Gula darah yang naik sesudah makan pada orang normal, tidak akan melebihi 140 mg/dL, dan akan turun dalam dua jam sesudahnya karena sudah meng¬alami proses metabolisme dalam tubuh.
Sayangnya, pada diabetisi, hal kebalikannya yang terjadi, di mana kondisi gula darah yang ada tidak sebaik orang yang sehat. Kontrol tubuh pada kenaikan glukosa atau gula darah, amat buruk.
Setelah makan, gula darah yang na¬ik akan tetap bertahan tinggi dalam jang-ka waktu yang agak lama, hal ini disebabkan tubuh tidak cukup memiliki hormon insulin yang bertugas menurunkan gula darah, atau mungkin tidak ada insu¬lin sama sekali yang diproduksi oleh organ pankreas. Jika sudah mengalami gejala di atas, orang ini dapat dikatakan menderita diabetes, dengan gejala gula darah yang cenderung tinggi.
“Diabetes tidak akan berarti apa-apa bagi penderitanya, sampai komplikasi itu muncul. Komplikasi akibat diabetes mencakup penyakit kardiovaskuler dan stroke, gangguan fungsi ginjal sampai gagal ginjal terminal, gangguan penglihatan sampai kebutaan, gangren pada kaki sampai terjadi amputasi, dan impotensi yang umum diderita pria, ” tutur Hery.
la pun menambahkan, “Komplikasi seperti ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup bagi penderita diabetes, namun juga ancaman kematian. Belum lagi ditambah besarnya dampak ekonomi yang diakibatkan oleh biaya perawatan komplikasi akibat diabetes.”
Pentingnya monitoring gula darah
Oleh karena peranan gula darah sesudah makan yang sedemikian penting, maka Panduan IDF telah mengatur tar¬get nilai gula darah dua jam sesudah makan agar diarahkan selalu dibawah 140 mg/dL.
Peran monitoring gula darah menggunakan alat glukometer, seperti dengan Accu-Chek dari Roche menjadi op¬timal, karena bersifat portable, praktis dan akurat, kapanpun dibutuhkan. Kehadiran alat glukometer ialah sebagai salah satu solusi untuk diabetisi untuk dengan mudah mengelola sendiri diabe-tes, dan sekaligus memantapkan pola hidup.
Data “real-time” yang diberikan oleh alat monitor gula darah, juga membantu dokter dalam mengambil keputusan terapi bagi pasien, karena informasi tren gula darah ini penting dibutuhkan dokter, misalnya dalam menentukan dosis dan jenis obat. (Jika Anda ingin berbisnis kaos dengan menguntungkan, dan mendapat kaos keren dengan harga grosir, silakan KLIK DISINI ).
Penerapan gaya hidup sehat
Sebagai salah satu strategi pengelo¬laan diabetes, menerapkan gaya hidup sehat amat diperlukan bagi para diabetisi. Rutin melakukan aktivitas fisik, mengatur pola makan dan menjaga berat badan merupakan elemen penting dalam manajemen diabetes yang efektif. Dengan aktivitas fisik ini berguna dalam memperbaiki kerja insulin dan menurunkan gula darah, terutama sesudah makan.
Mengonsumsi makanan sehat, seperti diet rendah lemak dan tinggi serat akan membantu menurunkan tingkat gu¬la darah sesudah makan dan memper-baiki nilai kolesterol dan tekahan darah. Upaya lain dengan menurunkan berat badan juga membantu diabetisi untuk meningkatkan sensitivitas sel tubuh terhadap kerja insulin.
Saat ini di pasaran juga telah banyak tersedia makanan rendah glikemik yang membantu diabetisi dalam menerapkan pengaturan pola makannya. Selain ma¬kanan rendah glikemik, juga terdapat banyak macam obat yang secara spesifik bekerja menurunkan gula darah sesudah makan, misalnya golongan peng-hambat alpha-glucosidase, golongan glinid, insulin kerja cepat, insulin reguler, exenatide, penghambat DPP-4 dan analog amylin.
Namun demikian, fokus utama pasien dan dokter yang menganjurkan untuk rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga pola makan dan berat badan, atau dengan kata lain adalah menjaga gaya hidup sehat pasien sebagai faktor penting dalam pengendalian diabetes.
(Jika Anda ingin berbisnis kaos dengan menguntungkan, dan mendapat kaos keren dengan harga grosir, silakan KLIK DISINI ).
Desain Keren Lain yang bisa Anda lihat....
Jika Anda ingin pesan, silakan klik disini.
Jika Anda ingin menjadi agen/grosir, silakan klik disini.
Jika Anda ingin membaca komentar pelanggan kami, silakan klik disini.
Jika ada pertanyaan, silakan klik disini.
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments